WASILAH IBADAH UMRAH- Selamat menunaikan ibadah umrah bagi yang sedang dan akan melakukan ibadah tersebut, mudah - mudahan Allah SWT menganugerahkan kemudahan, keringanan dan kekuatan kepada kita semua, sehingga ibadah umrah kita berjalan dengan baik dan khusyu’ serta membagikan pengaruh bagi perjalanan spiritual kita. Aamiin Ya Rabbal’ Alamiin.



                                       


WASILAH IBADAH UMRAH ISLAM 



PENGERTIAN IBADAH UMRAH






1. Makna Umrah ialah menyengaja (al-qasdu). Yakni sengaja berkunjung ke Baitullah dengan tujuan melakukan Thawaf dan Sa’i dengan cara tertentu dan waktu yang tidak ditentukan dengan niat karena Allah SWT.






2. Umrah terbagi menjadi dua jenis


o Umrah yang dilakukan di luar rangkaian haji (sewaktu-waktu).


o Umrah yang dilakukan dalam rangkaian haji.






Syarat, Rukun dan Wajib Umrah






1. Syarat umrah


o Islam


o Baligh (dewasa)


o Aqil (berakal)


o Merdeka


o Istitha’ah (mampu)






2. Rukun umrah


o Ihram


o Thawaf


o Sa’i


o Tahalul (bercukur)


o Tertib






3. Wajib umrah


o Niat Ihram dari miqat


o Tidak melakukan pamali dalam ibadah umrah.










WASILAH UMRAH






Dasar kata Wasilah ialah wasala [وسل], mashdarnya wasiilatun [وسيلة], artinya perantara, media atau sarana. Wasilah dalam kajian Islam, ialah perantara hamba kepada Allah SWT.






Jadi, Wasilah merupakan sarana agar Hamba terhubung kepada Allah SWT. Dengan wasilah, ibadah menjadi bernilai dihadapan Allah SWT.






Firman Allah SWT :






يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ






“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, supaya kalian mendapat kemenangan.”


(QS al Maidah [05] : 35)






Ayat tersebut selain mengajarkan untuk bertaqwa juga instruksi ber-wasilah bagi orang-orang beriman. Carilah trik agar ibadah sampai kepada Allah, dalam hal ini kita diperintahkan untuk berjihad (sungguh-sungguh).






Secara tata bahasa bentuk ayat diatas ialah perintah وَابْتَغُوا, artinya wajib mencari wasilah dalam ibadah. Bersungguh-sungguh dalam ber-wasilah agar selalu terjalin komunikasi dengan Allah SWT.






BACA JUGA : TATA CARA UMRAH






Sejatinya, manusia beribadah untuk menyiapkan bekal pulang ke kampung halaman sebetulnya. Mulanya Nabi Adam dari surga, maka manusia sebaiknya menempuh jalan pulang dengan perangai ahli surga. Tidak kah lingkungan itu sangat menyuratkan kepribadian seseorang. Wasilah inilah yang mendekatkan kita pada perangai dan nuansa surgawi. keindahan beribadah tersebut akan dirasakan saat ruh akan pulang kepada Allah SWT.






Pembagian Wasilah:






Pertama, Figur (orang) para Nabi, Rasul dan para ulama semuanya menjadi wasilah hamba kepada Allah SWT. Sebab dengan perantaraan mereka hamba dapat mengenal Allah SWT. Dari perantaraan ulama kita mengenal Nabi Muhammad saw, maka sosok ulama pewaris nabi merupakan wujud kesempurnaan nikmat Allah SWT kepada umat manusia.






Manusia pilihan Allah SWT dapat menjadi wasilah bagi umat. Dalam Al Quran disebutkan:






وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوا أَنفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا






“Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya diri mereka datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Penerima Taubat lagi Penyayang.” (QS an-Nisa [04]: 64).






CARA UMRAH






· Bila seorang muslim ingin berihram untuk umrah maka ia harus melepaskan seluruh pakaiannya, mandi sebagaimana ia mandi junub lalu memakai minyak wangi dan semacamnya, lalu dioleskan di kepala dan jenggot.


· Selesai mandi, pakailah pakaian ihram, selanjutnya sholat jika telah masuk waktu sholat fardhu, jika tidak, maka ia langsung ihram (niat) untuk umrah tanpa sholat, dan mengucapkan: (لَبَّيْكَ عُمْرَةً) lalu bertalbiyah:






((لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ - لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ - إنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالمُلْكُ لاَ شَرِيكَ لَكَ))


“Saya memenuhi panggilan-Mu ya Allah, saya memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, saya memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujian, nikmat dan kerajaan itu adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”






Pria bertalbiyah dengan mengeraskan suara, sedang wanita mengucapkannya sekedar didengar oleh orang yang ada di sebelahnya.






· Bila orang yang ingin ihram itu cemas akan adanya gangguan yang menghalangi kesempurnaan umrahnya, maka sebaiknya mengucapkan syarat ketika membaca niat ihram yang berbunyi:


(إنْ حَبَسَنِي حَابِسٌ فَمَحَلِّي حَيْثُ حَبَسَنِي)


“Jika aku tertahan oleh suatu rintangan maka tempat dan waktu tahallulku adalah di mana saya tertahan.”






Sebab saat ia melafadzkan syarat ini lalu terjadi sesuatu yang menghalanginya menyempurnakan umrahnya maka ia dapat bertahallul tanpa membayar tebusan.






· Disunnahkan baginya saat memasuki Mesjid Haram untuk mendahulukan kaki kanan sambil membaca:






((بِسْمِ اللهِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أبْوَابَ رَحْمَتِكَ، أَعُوذُ بِاللهِ العَظِيمِ، وَبِوَجْهِهِ الكَرِيمِ، وَسُلْطَانِهِ القَدِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ))






“Dengan nama Allah, sholawat dan salam untuk Rasulullah. Ya Allah! Ampunilah dosa-dosaku dan bukalah pintu-pintu rahmat-Mu. Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung dan dengan wajah-Nya Yang Mulia serta dengan kekuasaan-Nya yang qodim (tidak berawal) dari setan yang dirajam.”






· Kemudian mendekati Hajar Aswad untuk memulai thawaf, mengusapnya dengan tangan kanan lalu menciumnya, bila sulit menyentuhnya dengan tangan, cukup menghadap ke arah Hajar Aswad kemudian menderma isyarat kepadanya tanpa mencium tangan. Dan sebaiknya tidak berdesak-desakan sehingga tidak mengganggu orang lain terutama orang-orang lemah.






Doa yang dibaca saat menyentuh Hajar Aswad:






((بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أكْبَرُ، اللَّهُمَّ إيمَانًا بِكَ وَتَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ وَوَفَاءً بِعَهْدِكَ وَاتِّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ محمدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ))


“Dengan nama Allah, dan Allah Maha Besar, Ya Allah! Dengan beriman kepada-Mu, membenarkan Kitab-Mu (Al-Qur’an), setia kepada janji-Mu dan dengan mengikuti Sunnah Nabi-Mu (aku berthawaf di sekeliling Ka’bah ini).”






· Selanjutnya memutar ke sisi kanan dan menjadikan Ka’bah di sebelah kirinya. Jika telah sampai pada Rukun Yamani, ia mengusapnya tanpa mencium, tetapi bila sulit maka tidak perlu berdesak-desakan.


Antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad membaca ayat:






رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ 


“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” 


(Q.S. Al-Baqorah: 201)


Dan setiap melalui Hajar Aswad, memulurkan isyarat dengan tangan dan bertakbir. Selebihnya ia membaca dzikir, doa atau baca Al-Qur’an. Perintah thawaf di Baitullah, sa’i antara Shafa dan Marwah dan melempar jumrah adalah untuk menegakkan Dzikrullah.






· Dalam thawaf qudum ini (thawaf yang pertama kali dilakukan ketika tiba) disunnahkan bagi laki-laki untuk mengerjakan dua perkara berikut ini:










Pertama: Al-Idhthiba’ sejak mulai thawaf sampai selesai. Adapun bentuknya adalah meletakkan bagian tengah selendang ihram di bawah ketiak kanan, dan kedua ujungnya disampirkan di atas bahu kiri. Setelah selesai thawaf, selendang tersebut diletakkan kembali seperti semula, sebelum melakukan sa’i. Karena Al-Idhthiba’ hanya pada waktu thawaf saja.






Kedua: Lari-lari kecil pada 3 putaran pertama, adapun 4 putaran terakhir hanya berjalan biasa saja.






· Setelah menyelesaikan thawaf 7 putaran lalu menuju maqom Ibrahim sambil membaca ayat:


 وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إبْرَاهِيمَ مُصَلَّى 


“Dan jadikanlah sebahagian makam Ibrahim tempat sholat.” (Q.S. Al-Baqorah: 125)






Selanjutnya sholat dua raka’at di belakangnya jika memungkinkan, jika tidak maka ia boleh melakukan sholat di mana saja di dalam mesjid. Dalam raka’at pertama setelah membaca Al-Fatihah membaca surah Al-Kafirun dan pada raka’at kedua membaca surah Al-Ikhlas.






· Lalu menuju tempat sa’i, setelah dekat ke bukit Shafa, lalu membaca ayat:






 إنَّ الصَّفَا وَالمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ فَمَنْ حَجَّ البَيْتَ أوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإنَّ اللهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ


“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqorah: 158)






Kemudian membaca:


((اِبْدَأْ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ))


“Mulailah dengan apa yang dimulai oleh Allah.”






Setelah itu, naik ke bukit Shafa hingga melihat Ka’bah, lalu menghadap kepadanya sambil mengangkat tangan, memuji Allah dan memohon doa kepada-Nya dengan doa yang disenangi.


Adapun doa yang disenangi Rasulullah SAW:






((لاَ إلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ - لاَ إلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ أنْجَزَ


وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأحْزَابَ وَحْدَهُ))






“Tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Pemilik kerajaan dan pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada tuhan selain Allah semata, Dia melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan bala tentara musuh sendirian.”









Kemudian turun dari bukit Shafa menuju Marwah, bila sampai ke tanda hijau, berlari secepatnya sesuai dengan kemampuan tanpa mengganggu orang lain. Bila sampai pada tanda hijau kedua ia kembali berjalan sebagaimana biasa hingga sampai ke bukit Marwah dan menaikinya, lalu menghadap kiblat, mengangkat tangan dan berdoa dengan doa yang diinginkan. Kemudian turun dari Marwah kembali menuju Shafa, berjalan kaki pada tempat berjalan kaki dan berlari di tempat berlari. Saat sampai ke bukit Shafa, ia melakukan apa yang ia lakukan di awal mula dengan melafadzkan doa dan dzikir. Demikian pula ketika sampai ke bukit Marwah, hingga sempurna 7 putaran. Dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali putaran dan kembali dari Marwah ke Shafa dihitung satu kali putaran. Ketika sa’i membaca apa saja yang disenangi seperti dzikir, doa dan bacaan Al-Qur’an.






Bila ia telah melengkapi sa’inya 7 kali putaran, bagi laki-laki mencukur habis atau memendekkan rambut dan bagi perempuan memotong setiap ujung kelabang rambutnya sepanjang satu ruas jari-jari.






Mencukur rambut hendaklah merata ke seluruh kepala, demikian pula ketika memangkas pendek harus merata. Mencukur gundul lebih baik dari sekedar mencukur pendek, karena Rasulullah SAW mendoakan orang-orang yang mencukur gundul tiga kali dan hanya sekali mendoakan orang-orang yang memangkas pendek. Kecuali bila waktu pelaksanaan haji sudah dekat yang tidak memungkinkan rambut bisa tumbuh cepat. Maka yang paling baik ia lakukan adalah memotong pendek, agar bisa dipotong gundul pada waktu haji.






Beberapa Tips agar khusyuk berwasilah dalam umrah :


1. Sabar


Perjalanan umrah selalu diwarnai ketidak sempurnaan. Baik menyangkut perilaku sesama jamaah,


penyelenggara maupun petugas di Saudi. Ketidaksempurnaan itu akan terjadi sejak persiapan, di


pesawat, di perjalanan, di airport, pelaksanaan ibadah hingga kembali pulang. Maka banyak


bersabarlah.






2. Kenali Fardu


Banyak yang perlu dihafalkan dalam mengerjakan ibadah umrah. Namun jangan memaksakan diri.


Yang penting, kenali hal-hal yang diwajibkan. Selebihnya Anda dapat mengikuti pembimbing.






3. Siapkan Obat-obatan Sendiri


Jangan bergantung pada orang lain. Bawa obat yang paling tepat yang anda perlukan. Vitamin C


dosis tinggi akan bermanfaat. Demikian juga masker penutup hidung yang dapat diperoleh di apotik-


apotik.






4. Siapkan segala sesuatu pelawan cuaca






Bawalah kipas dan semprotan air (hand sprayer). Siapkan kacamata hitam untuk melindungi mata dari terik matahari. Gunakan kosmetik pelembab kulit, juga pelembab bibir, agar tidak pecah dan perih. Terus gunakan kaus kaki kecuali saat berpakaian ihram. Bawa pula tempat minum praktis. Perlu sering minum walaupun tidak merasa haus untuk menghindari dehidrasi.






5. Tidak Membawa Pakaian secara Berlebihan






Kelembaban udara di Saudi sangat rendah. Kecuali saat berjalan thawaf, tubuh praktis sukar mengeluarkan keringat. Udara juga tak banyak berdebu. Maka, pakaian relatif awet. Jika dicuci juga cepat


kering.






6. Makanlah secukup kebutuhan anda






Tubuh lelah dan udara kering sering membuat nafsu makan hilang. Jika itu terjadi, paksakan diri untuk makan secukupnya. Apapun rasanya. Gunakan buah segar seperti semangka atau jeruk sebagai cuci mulut.






8. Teladani Jejak Ibrahim dan Muhammad






Haji dan umrah juga merupakan ibadah ziarah menelusuri jejak Rasulullah SAW dan Nabi Ibrahim AS.


Alanbkah baiknya kita juga mempelajari kisah mereka seputar masalah haji. Resapi makna setiap langkah beliau. Kenali tempat - tempat dulu beliau berada.






9. Belanja Seperlunya






Belanja di Saudi Arabia bukanlah suatu yang dilarang. Namun ingat tujuan utama perjalanan kita ialah beribadah dan bukan


yang lain. Selain harga-harga tidak murah bila diukur dengan mata uang rupiah, juga membuat kita repot dalam perjalanan.






10. Bawa Buku Agama






Manfaatkan waktu dengan baik guna mempelajari satu buku khusus. Bisa saja itu terjemahan Al-Quran, satu buku hadis, atau kumpulan doa.






HATI – HATI DENGAN PELANGGARAN SAAT IBADAH HAJI DAN UMRAH.










Ada beberapa kelalaian dan pelanggaran yang sering dilakukan oleh sebagian jama’ah haji ketika melaksanakan ibadah haji atau umrah. Pada artikel ini akan dijabarkan secara singkat dengan maksud dapat mencegah terjadinya kelalaian:






1. Idhthiba’ mulai pertama mengenakan pakaian ihram sampai selesai melaksanakan manasik hajinya.


2. Tidak mengangkat suara saat talbiyah, atau tidak bertalbiyah sama sekali setelah mengenakan pakaian ihram, di Arafah atau di Muzdalifah.


3. Bertalbiyah secara berjama’ah yang dipimpin oleh seorang di antara mereka.


4. Mengarang doa-doa khusus saat masuk Mesjid Haram atau saat memandang Ka’bah.


5. Membaca doa-doa tertentu yang dikhususkan di setiap putaran saat sa’i atau saat thawaf, sementara yang dianjurkan ialah membaca doa, dzikir dan membaca Al-Qur’an secara mutlak, tanpa pengkhususan.


6. Mengangkat suara dengan keras saat thawaf atau sa’i atau berdoa ramai-ramai yang mengganggu orang lain.


7. Membagi isyarat ke Ka’bah saat naik ke bukit Shafa.


8. Wanita yang berlari cepat di antara dua tanda hijau saat sa’i, padahal itu hanya dikhususkan untuk laki-laki.


9. Sebagian orang menyangka bahwa sa’i dari Shafa hingga kembali ke Shafa dihitung satu kali putaran, yang benar adalah sa’i dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali putaran lalu mengulang lagi dari Marwah ke Shafa dihitung sebagai putaran kedua.


10.Memotong sebagian rambut dan meninggalkan yang lain saat bertahallul atau mengambil beberapa helai rambut saja tanpa diratakan ketika pangkas rambut.


11.Tidak menghadap ke kiblat saat berdoa di Arafah.


12.Berupaya menaiki gunung Arafah guna berdoa.


13.Tidak menyia-nyiakan waktu di Arafah, Mina dan pada hari-hari tasyrik dengan sesuatu yang tidak ada gunanya.


14.Menerka bahwa batu-batu kecil untuk jumrah harus diambil dari Muzdalifah serta menyakini bahwa lebih baik mencucinya terlebih dahulu sebelum melemparkannya.


15.Tidak berdiri untuk membaca doa setelah melempar ketiga jumrah.


16.Memotong hadyi yang belum genap umur yang disyareatkan atau menyembelih hewan hadyi yang mempunyai cacat atau melemparkannya setelah disembelih.


17.Banyak di antara jama’ah haji pada akhir waktu Ashar pada hari Arafah sibuk berkemas-kemas untuk segera meninggalkan Arafah, padahal sebagaimana yang kita ketahui bahwa itu adalah waktu yang paling afdhal untuk berdoa dan waktu di mana Allah membanggakan hamba-hamba-Nya di hadapan para malaikat.


18.Banyak jama’ah haji terburu - buru melaksankan sholat Maghrib, Isya’ dan Subuh di Muzdalifah tanpa mengkaji arah kiblat yang benar, padahal yang wajib adalah memastikan arah kiblat dengan benar atau bertanya kepada orang yang mungkin mengetahuinya.


19.Bubarnya kebanyakan jama’ah haji dari Muzdalifah sebelum tengah malam dan meninggalkan mabit di Muzdalifah padahal itu termasuk salah satu wajib haji.


20.Mendelegasikan kepada orang yang mampu untuk melempar padahal hal itu hanya untuk orang-orang yang lemah.


21.Melempar jumrah dengan sandal, batu besar dll.


22.Sebagian jama’ah haji memotong jenggot, dengan alasan berhias pada hari ied, padahal itu adalah suatu maksiat pada waktu dan tempat yang mulia.


23.Berdesak-desakan untuk mencium hajar aswad yang kadang-kadang mengakibatkan perkelahian, pertengkaran dan umpatan dengan kata-kata kotor yang tidak pantas pada waktu dan tempat yang mulia.


24.Sebagian jama’ah haji meyakini bahwa hajar aswad itu membagikan manfaat, oleh karena itu setelah mereka mengusapnya mereka kemudian mengusapkan tangannya ke seluruh tubuhnya. Ini termasuk kebodohan karena yang membagikan manfaat itu adalah Allah semata.


Umar ra ketika menyentuh hajar aswad berkata:


(إنِّي لأعْلَمُ أنَّكَ حَجَرٌ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْ لاَ أنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ  يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ)






“Sesungguhnya saya tahu bahwa kamu hanyalah batu yang tidak bermanfaat dan tidak berbahaya, kalau saya tidak melihat Rasulullah SAW menciummu saya tidak akan menciummu.”






25. Sebagian jama’ah haji mengusap seluruh pojok-pojok Ka’bah atau bahkan menyentuh dan mengusap-usah dinding-dindingnya. Ini adalah suatu kebodohan, karena mengusap Ka’bah adalah ibadah dan pemuliaan kepada Allah SWT, jadi semestinya sesuai dengan semua yang diperintahkan dan seharusnya menurut aturan yang telah ditetapkan.


26.Mencium rukun yamani, ini juga suatu kekeliruan , karena rukun yamani hanya disentuh dengan tangan tanpa dicium.


27.Thawaf dengan memasuki hijir Ismail.


28.Menjamak sholat-sholat fardhu di Mina.


29.Sebagian orang melempar jumrah aqobah terlebih dahulu kemudian wustha dan shugra, yang benar adalah sebaliknya.


30.Menggenggam semua batu-batu lalu melemparnya dengan sekali lemparan, ini salah besar. Sebagian ulama mengatakan: “Bila melempar lebih dari satu batu dengan satu tangan dalam satu kali lemparan hanya, dihitung satu lemparan. Dan yang diwajibkan adalah melempar satu-satu, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.”


31.Meninggalkan Mina sebelum melempar jumrah untuk thawaf wada’ selanjutnya kembali ke Mina untuk melempar jumrah lalu safar (pulang ke negerinya). Hal tersebut dilarang sebab bertentangan dengan perintah Rasulullah SAW hendaknya amalan yang terakhir dilaksanakan adalah thawaf di Ka’bah, jadi thawaf wada’ ialah manasik haji yang terakhir dilaksanakan.


32.Meninggalkan Ka’bah dengan membagi isyarat kepadanya dan tinggal di Mekah setelah thawaf wada’.


33.Keyakinan bahwa mengunjungi kubur Nabi sangat dipetuakan.






Inilah beberapa kekeliruan yang semestinya dihindari dan dijauhi. Dan sebaik-baik nasihat ialah nasihat Rasulullah SAW yang bersabda:






((خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ))


“Ambillah (contohlah) dariku manasik haji kalian.”












الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ